“Angklung merupakan salah satu identitas budaya Jawa Barat yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus. Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin budaya tetap hidup di tengah masyarakat sekaligus menjadi sarana membangun komunikasi yang akrab dan terbuka dengan warga,” ujarnya
Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP PPAI, Dr. Gunawan Undang M. Si.menjelaskan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari program Training of Trainers (TOT) bagi calon instruktur angklung. Ia menyampaikan alasan mengapa Cianjur dipilih sebagai lokasi percontohan.
“Secara internasional, angklung telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO. Ini menjadi kewajiban bersama masyarakat dan pemerintah untuk melestarikannya. Sayangnya, hingga saat ini belum ada undang-undang khusus yang mengatur dan melindungi keberadaan angklung. Oleh karena itu, kami telah menjalin kerja sama melalui Nota Kesepahaman dengan Pemerintah Kabupaten Cianjur, khususnya Dinas Kebudayaan, sebagai payung hukum pelaksanaan kegiatan,” paparnya.
Ia juga menguraikan sejarah dan filosofi angklung yang dikembangkan oleh Daeng Sutigna. Awalnya angklung asli atau angklung buhun menggunakan tangga nada Salendro, kemudian diinovasi menjadi sistem nada diatonis dan kromatis yang dikenal luas saat ini.
“Angklung memiliki nilai lebih: mudah dipelajari, biayanya terjangkau, menyenangkan dimainkan, dan sangat mendidik. Dalam permainannya, dibutuhkan konsentrasi tinggi—satu detik saja terlambat memainkan nada, maka keharmonisan akan terganggu. Di situlah terlatih kedisiplinan, fokus, dan rasa kebersamaan,” tambahnya.
Dr. Gunawan Undang juga menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan Dr. H. Tom Maskun. Menurutnya, dukungan tersebut sangat nyata dan berbeda dari daerah lain.
“Beliau sangat konsisten mendukung sejak sebelum menjabat, membuktikan janji politiknya. Jika di tempat lain peserta harus menanggung sendiri kebutuhan kegiatan, di sini perlengkapan, pakaian, dan kebutuhan lainnya difasilitasi secara cuma-cuma. Hal ini sangat selaras dengan tugasnya di Komisi Bidang Kebudayaan,” ungkapnya.
Resital Angklung ke-3 ini juga dinilai memiliki keistimewaan tersendiri. Dari segi kualitas, lebih dari 90% peserta sudah mampu membuat aransemen lagu secara mandiri, serta menunjukkan peningkatan kemampuan kepemimpinan dan manajerial. Dari segi jumlah peserta, target awal 15 kelompok terlampaui jauh menjadi lebih dari 30 kelompok.
“Baik kuantitas maupun kualitasnya meningkat pesat. Semoga ke depannya Resital Angklung ke-4 dapat diselenggarakan dengan kualitas yang lebih baik lagi dan menjangkau lebih banyak peserta,” harapnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pendaftaran peserta, pembukaan resmi, sesi bermain angklung bersama, pertunjukan yang dibagi dalam dua sesi, dan ditutup dengan doa bersama. (WRS)

0Komentar