TfdpTfC5BUM8GfAoTSdiTUG9GA==
Light Dark
Tutup Pelatihan Anti TPPO, Forum Puspa Targetkan Pencegahan Lewat Pendekatan Desa

Tutup Pelatihan Anti TPPO, Forum Puspa Targetkan Pencegahan Lewat Pendekatan Desa

Daftar Isi
×

CIANJUR – Kegiatan pelatihan penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) atau Human Trafficking resmi ditutup hari ini, Selasa (28/04/2026). Pelatihan yang berlangsung selama tiga bulan, sejak 1 Maret hingga 28 April 2026 ini, merupakan kolaborasi internasional yang diikuti peserta dari berbagai negara seperti Amerika Serikat (New York), India, dan Indonesia.

Acara penutupan yang digelar di ruang rapat gedung Prayoga ini ,dihadiri oleh berbagai unsur, mulai dari perwakilan lembaga, aparat, hingga akademisi. Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga akan mendeklarasikan pembentukan Gugus Tugas TPPO sebagai langkah konkret penanganan kasus ini.

 

Pelatihan ini digagas oleh Yayasan Istri Binangkit bekerja sama dengan Yayasan Mentari New York. Peserta yang terlibat tidak hanya dari Forum Puspa, tetapi juga meliputi unsur Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Dinas Pemberdayaan Perempuan, paralegal, pengacara, LBH, serta mahasiswa yang peduli terhadap isu perlindungan perempuan dan anak.

 

Ketua  Forum Puspa ( Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak ) Kabupaten Cianjur Hj. Zulfa Indrawati, SH MHKes          menyampaikan, bahwa seluruh peserta mendapatkan banyak manfaat dan ilmu yang berharga. Kita menyadari bahwa kasus TPPO di Kabupaten Cianjur masih cukup tinggi, bahkan baru-baru ini tim menjemput korban yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam acara ini pun ada sesi di mana para korban memberikan kesaksian mereka.

 

"Harapan kami dari seluruh lembaga adalah agar jumlah korban TPPO dapat berkurang dari hari ke hari. Oleh karena itu, kami mengumpulkan para perempuan untuk diberikan pembekalan, agar upaya penanganan tidak hanya dilakukan oleh pemerintah dan dinas saja, tetapi juga didukung oleh peran serta masyarakat," ungkapnya


Forum Puspa memiliki visi untuk menciptakan lingkungan yang aman, seperti konsep "Desa Rama Anak" dan "Desa Rama Perempuan". Dalam upaya ini, faktor pendidikan menjadi kunci utama, baik pendidikan dalam keluarga, pendidikan anak, maupun pemberdayaan perempuan.

 

Strategi yang diambil adalah pendekatan "Desa by Desa" dengan melakukan pendataan terlebih dahulu untuk menentukan wilayah prioritas, mengingat keterbatasan sumber daya.

 

"Kami fokus di bidang pencegahan. Meskipun kami tetap menangani korban, namun tugas utama kami adalah mengidentifikasi akar masalahnya. Kami ingin memastikan bagaimana caranya agar jumlah perempuan dan anak-anak yang menjadi korban tidak terus bertambah," pungkasnya.


"WRS"

0Komentar