CIANJUR – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Cianjur menggelar kegiatan jalan santai gratis bertajuk "Baguna" (Badan Penanggulangan Bencana) sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Lahir Pancasila sekaligus menyemarakkan Bulan Bung Karno. Kegiatan yang terbuka untuk umum ini dilepas dari Kantor DPC PDIP Cianjur, melintasi Bundaran Tugu Lampu Gentur, hingga kembali ke titik awal keberangkatan, Senin (01/06/2026).
Rute perjalanan dikatakan cukup nyaman dan aman, sehingga bisa diikuti oleh seluruh kalangan usia. Panitia menyiapkan beragam hadiah menarik melalui undian doorprize, antara lain sepeda listrik, sepeda lipat, kambing, hingga perlengkapan rumah tangga seperti magic com dan alat masak lainnya. Kegiatan ini diprediksi diikuti sekitar 500 peserta yang terdiri dari pengurus, kader, hingga masyarakat luas.
Diketahui, kegiatan besar ini tidak dihadiri langsung oleh Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Cianjur. Pimpinan partai berhalangan hadir dikarenakan ada kegiatan dinas partai di luar kota, sehingga pelaksanaan kegiatan diserahkan sepenuhnya kepada jajaran pengurus dan panitia pelaksana.
Dalam wawancara eksklusif, Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan Baguna, H. Saepul Kemal, mengungkapkan makna mendalam di balik acara ini. Ia menyoroti tantangan zaman yang membuat pemahaman sejarah dan nilai luhur bangsa dinilai mulai memudar di kalangan generasi muda.
“Pancasila ini sesungguhnya benar-benar sudah memasyarakat. Kelima sila itu nilainya sudah terserap betul ke dalam kehidupan banyak orang. Tapi kita sadar, zamannya sudah berubah, generasinya pun berbeda. Dulu upacara bendera itu rutin digelar, sekarang sudah jarang sekali. Di sekolah saja upacara kadang cuma sebulan sekali, bahkan ada yang terlewatkan,” ujarnya.
“Kalau menurut saya pribadi, ini lebih ke arah kita mulai melupakan sejarah. Makanya betul sekali pesan Ibu Megawati Soekarnoputri, 'Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah' atau 'Jas Merah'. Itu pesan yang sangat dalam dan harus kita pegang teguh,” tegasnya.
Kurangnya pembelajaran sejarah dan pengamalan nilai Pancasila di lingkungan pendidikan menjadi alasan utama pihaknya turun tangan mengingatkan kembali masyarakat. Bahkan, ide kegiatan ini sempat berjalan mendadak demi memanfaatkan momen tepat di tanggal 1 Juni, dan ia sempat meminta maaf karena tidak melapor lebih awal kepada pimpinan.
“Jujur saja, awalnya saya tidak lapor dulu ke Ketua DPC dan saya minta maaf karena mengambil keputusan mendadak. Tapi saya lihat, momen 1 Juni ini adalah waktu yang paling tepat. Tujuannya satu: mengingatkan kembali, khususnya kepada pemilih pemula dan generasi muda, agar mereka tahu sejarah lahirnya Pancasila, tahu siapa pendiri bangsa ini,” jelasnya.
Pesan paling utama yang ingin ditanamkan melalui kegiatan ini adalah semangat "NKRI Harga Mati". Pasalnya, tantangan dan serangan nilai dari luar terus masuk dan mengancam persatuan bangsa. Jika akar sejarah tidak dipahami, dikhawatirkan keutuhan bangsa akan tergerus di masa depan.
“Kita harus tanamkan kuat-kuat di hati mereka, NKRI Harga Mati. Serangan dari luar itu nyata. Kalau generasi muda tidak paham akarnya, tidak paham sejarahnya, nanti yang rusak ke depannya adalah persatuan kita sendiri. Jadi kegiatan ini bukan sekadar jalan kaki, tapi sarana menanamkan kembali ingatan sejarah dan persatuan itu,” pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Kemasyarakatan DPC PDIP Cianjur, Iwan Permana, S.H., memberikan penjelasan lebih luas mengenai konteks waktu dan sejarah kegiatan ini. Ia menjelaskan alasan mengapa bulan Juni memiliki tempat istimewa dan disebut sebagai Bulan Bung Karno dalam kalender perjuangan PDI Perjuangan.
“Kegiatan hari ini merupakan rangkaian dari peringatan Bulan Bung Karno. Kenapa bulan Juni disebut demikian? Karena di bulan ini ada tiga peristiwa besar dan penting dalam sejarah bangsa dan perjalanan hidup Bapak Proklamator kita, Bung Karno. Yaitu pertama, tanggal 1 Juni adalah hari lahirnya Pancasila di mana upacara bendera digelar serentak di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kedua, tanggal 6 Juni adalah hari kelahiran Bung Karno Sang Proklamator dan Presiden Pertama RI. Serta ketiga, tanggal 21 Juni adalah hari wafatnya Bung Karno,” ungkap Iwan.
Menurutnya, adanya tiga peristiwa besar dalam bulan Juni inilah yang mendasari sebutan Bulan Bung Karno. Adapun rangkaian kegiatannya terbagi menjadi dua poin utama, yaitu upacara bendera dan kegiatan jalan santai seperti hari ini yang diikuti sekitar 500 orang.
"Sebelumnya tanggal 1 Juni ini jarang diperingati. Nah, harapan kami adalah membiasakan masyarakat, agar setiap tanggal 1 Juni itu harus selalu diperingati dan diingat sebagai hari lahirnya Pancasila. Ini tugas kita bersama untuk membumikan sejarah ini kembali,” tegasnya.
Ditanya mengenai sasaran kegiatan, Iwan menegaskan meski ada muatan pembinaan ke internal kepengurusan dan kader, namun inti sasarannya tetap masyarakat luas. Kegiatan ini diharapkan mampu membuat nilai-nilai Pancasila melekat kembali di setiap warga Cianjur, agar persatuan dan cinta tanah air selalu terjaga.
Diharapkan, peringatan Hari Lahir Pancasila dan semangat Bulan Bung Karno lewat kegiatan Baguna ini mampu menjadi pengingat abadi bagi seluruh elemen bangsa untuk kembali mencintai sejarah, memegang teguh nilai luhur, dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia selamanya.
(WRS)


0Komentar